The Beginning (Part 2)

Image

Hal terakhir dan yang paling penting yang membuat gue bisa seperti sekarang ini adalah seringnya menonton tayangan ketiga olahraga tersebut. Terhitung dari tahun  2009 sampai sekarang, banyak tayangan olahraga yang gue saksikan ditv tanpa harus memasang receiver berbayar. Malam-malam di Ciputat banyak gue habiskan untuk bergadang mengerjakan tugas dan menonton siaran olahraga. Kebanyakan menonton tayangan-tayangan tersebut, perspektif gue terhadap tayangan olahraga favorit gue mulai berubah haluan dari yang tadinya hanya fangirling menjadi seseorang yang ingin sekali mengerti bagaimana para pelaku olahraga melakukan pekerjaan mereka. Pendapat gue semakin objektif terhadap pertandingan-pertandingan yang gue saksikan. Sekarang gue hafal tim mana yang bermain bagus, dan tim mana yang bermain jelek. Bahkan pandangan gue terhadap pembalap favorit gue, Dani Pedrosa pun berubah. Gue lebih sering mengeluh tentang penampilannya di trek yang kalah telak dari Lorenzo dan Marquez ketimbang pura-pura mendukung dan percaya bahwa suatu saat dia akan menjadi juara dunia. Jangan menghujat gue terlebih dahulu, gue tetap mendukungnya untuk menjadi juara dunia, hanya saja gue sekarang lebih realistis terhadap perbandingan antara harapan dan kenyataan. Hal yang sama juga berlaku untuk sepakbola. Gue berusaha untuk mengendalikan diri gue sendiri untuk tidak terlalu emosional ketika ada seseorang (atau banyak orang) yang mengejek tim favorit gue. You know, being a realistic fan is a lot less painful than being a so-called real fan and then you ended up losing a friend only because of your ‘defending’ words toward something that you don’t even close to are too offended for them (pengalaman).

Oh, satu lagi, faktor orang tua. Gue terus terang terkesan dengan perubahan sikap orang tua gue terutama bapak terhadap hobi menonton tayangan olahraga. Ketika gue SMA, gue sampai harus sembunyi-sembunyi untuk menonton balapan atau pertandingan sepakbola apalagi kalau tayangannya tengah malam. Klasik sih alasannya, takut gue kesiangan karena paginya gue harus sekolah. Ketika itu pula gue merengek sampai secerewet apapun untuk dibelikan receiver biasa agar bisa menikmati tayangan tv yang lengkap tidak kunjung dikabulkan oleh bapak gue. Sampai akhirnya gue lulus sekolah dan hendak pindah ke Ciputat, barulah si bapak membeli receiver. Gue sempat geregetan mengapa disaat gue sudah tidak akan tinggal lama di rumah si bapak baru membeli receiver. Anyway, karena beliau juga penggemar berat pertandingan sepakbola, bapak sempat berkali-kali ganti receiver dengan yang baru dan bisa menonton bola, meski harus membayar lebih mahal. Hal terakhir yang dilakukannya adalah me-relay tayangan NexMedia dari tetangga beliau. Dan ya, sekarang dirumah subur pertandingan sepakbola. Tiada hari tanpa menonton sepakbola, begitu kata mamah gue setiap kali beliau curhat tayangan tv dirumah. Terlepas ada kaitannya atau tidak, gue merasa bapak melakukan itu tidak hanya untuk memuaskan hobinya, tetapi juga hobi anaknya. Beliau ingin anaknya kerasan dirumah supaya cepat lulus dari studinya (okay, kepikiran skripsi lagi kan). Gue terharu setiap kali setelah MUFC bertanding, bapak selalu menelpon gue untuk mengobrol tentang jalannya pertandingan sekaligus untuk memastikan kalau anaknya bisa menonton pertandingan klub kesayangannya. I guess what he does will always make me watching every possible football games whether it is a good thing or not.

Gue rasa itu beberapa dari banyak alasan mengapa gue terjebak didunia tontonan para lelaki ini. I know you probabli don’t give a shit about what i write, tapi alasan-alasan itulah yang membuat gue memutuskan untuk lebih telibat kedalam pengamatan terhadap cara bermain mereka dari pada tetap ber-fangirling (which sounds silly sometimes, by the way). Don’t get me wrong, gue tetap memuja pria-pria tampan yang lari-larian dilapangan dan yang duduk dibelakang kemudi motor maupun mobil F1 koq. Cita-cita untuk menjadi pundit atau pengamat sepakbola professional atau analis balapan memang jauh sekali dari jangkauan gue. Gue ingin seperti Pangeran Siahaan yang artikelnya ditunggu semua orang untuk dibaca, atau Jack Leslie yang gue singgung diparagraf pertama tadi. Mereka adalah panutan gue dalam menulis hal-hal yang berbau tontonan olahraga yang gue gemari.  Gue tau gue masih jauh ketitik dimana mereka sekarang berada, namun justru cita-cita yang nyaris tak mungkin itu yang membuat gue tetap menulis hal-hal yang gue suka meski kadang tulisannya terkesan ngambang alias kurang pengetahuan. I’m still working on it.

Advertisements

One thought on “The Beginning (Part 2)

  1. Pingback: The Beginning (Part 1) | Win Winchester's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s