The Beginning (Part 1)

Image

Everything has a beginning. Itu yang ada dipikiran gue ketika membaca section story yang ada diblog-nya Jack Leslie, seorang blogger Formula1 yang terhitung sukses diusianya yang masih 18 tahun. Bagaimana dia mengolah artikel menjadi sebegitu menariknya terlihat dari latar belakangnya yang memang menggemari olahraga balapan jet darat itu, serta bagaimana dirinya perlahan memasuki dunia autosport dengan bergabung dibeberapa komunitas serupa dan banyak membaca majalah yang berkaitan dengan hal itu, juga bagaimana keluarganya mendukung hal-hal yang dilakukannya. Hal ini mengingatkan gue tentang bagaimana gue bisa ‘terjerembab’ diranah obrolan laki-laki dan menganggap bahwa acara pembukaan Miss World yang ada di Bali tempo hari kurang menarik dibandingkan Formula One race yang digelar pada waktu yang sama. Disini gue bakal bercerita tentang bagaimana gue menyukai tontonan Sepakbola, MotoGP, Formula1, dan olahraga-olahraga yang lain.

Alasan pertama dan yang paling mendasar bagi semua perempuan yang menyukai ketiga tontonan laki-laki diatas adalah karena para pelaku olahraganya yang rupawan. Cristiano Ronaldo mengenalkan gue pada Sepakbola dan Manchester United. Klub berjuluk Setan Merah ini bahkan sekarang sudah mendarah daging pada diri gue. Lalu ada Dani Pedrosa di MotoGP. Meski belakangan penampilannya kurang memuaskan, tetapi dia telah berjasa mengenalkan gue kepada dunia balap motor ini. He’ll be forever my favorite rider. Kemudian yang terakhir adalah Kimi Raikkonen. Everyone loves this guy from the moment he drove that Renault car. Gue sedikit terlambat mengenalnya sih. Ketika dia masih di Ferrari, gue terkagum-kagum dengan caranya berbicara pada semua orang dan wajahnya yang sedingin es. Tak heran jika dia mendapat julukan The Iceman. Meski dia sempat ‘beristirahat’ selama dua musim dari dunia balap karena ditahun 2009 Ferrari lebih memilih mempertahankan Felipe Massa dan meminang Fernando Alonso, gue tetap bisa mempertahankan minat gue pada olahraga balapan jet darat tersebut. Sampai akhirnya Tuhan membawa Kimi kembali (halah!).

Tahap selanjutnya merupakan proses pendalaman gue terhadap ketiga olahraga tersebut. Tahun-tahun SMA gue lewati dengan ke sakit hatian atas susahnya menonton siaran televisi di daerah Banten Selatan yang diselimuti gunung sehingga tv gue tidak bisa menerima signal satelit tanpa memakai receiver berbayar. Pernah beberapa kali gue menangis karena tidak bisa menonton tayangan MotoGP kesayangan gue akibat hal itu. Maka gue berimprovisasi dengan berlangganan koran olahraga agar gue bisa tetap up to date dengan berita MotoGP. Gue bahkan berhasil membuat kliping tentang MotoGP selama musim 2006, 2007, dan 2008 agar ketika gue kangen terhadap balapan tersebut, gue bisa membaca kembali artikel-artikel itu. Entah terkubur dirumah bagian mana sekarang kliping itu. Dari situ gue terjerumus kedunia lain selain MotoGP, dan sepakbola menjadi the next big thing buat gue.

Seiring banyaknya gue membaca artikel-artikel tentang sepakbola, gue semakin tertarik dengan hal itu. Apalagi Manchester United, klub yang gue putuskan untuk menjadi favorit gue sedang jaya-jayanya dengan menjuarai EPL pada tahun 2007, EPL dan UCL 2008, dan kembali meraih EPL pada tahun berikutnya. Orang-orang bilang moment paling hebat United adalah saat final UCL 98/99, tetapi bagi gue yang ‘pemula’, moment terhebat itu dimiliki oleh Final UCL di Moscow saat United menaklukan Chelsea lewat adu penalty yang dramatis. I never stop following their moves ever since. Gue menganggap kepindahan gue ke Ciputat untuk menimba ilmu disalah satu perguruan tinggi negeri dikota ini merupakan sebuah berkah bagi gue. It means big city with free television broadcasting everywhere! Kecanduan gue terhadap sepakbola semakin bertambah saja karena intensitas menonton sepakbola semakin sering. Bahkan tidak hanya pertandingan-pertandingan EPL saja yang gue tonton, Serie A, La Liga, dan Liga Eropa lain gue jabanin. Selain itu, disini juga gue mulai memberanikan diri untuk bergabung dengan salah satu fanbase United. Tahun ini merupakan tahun ketiga gue bergabung dengan mereka.

Gue tidak akan secerewet sekarang ini jika gue membicarakan sepakbola, MotoGP, dan Formula1 dengan teman-teman gue yang lain jika saja omongan gue tidak pernah dianggap serius oleh teman-teman gue dulu. Sewaktu SMA, beberapa orang benar-benar mendengarkan omongan gue ketika kami mengobrol tentang tiga hal tersebut. Entah hanya perasaan gue saja atau memang benar, mereka terlihat terkesan dengan pengetahuan yang gue bagi dengan mereka (thanks a lot to the newspapers) sehingga jika mereka bertemu denganku, mereka selalu mengajaku mengobrol tentang ketiga olahraga tersebut. Kebiasaan ini terbawa keranah perkuliahan. Syukurlah fans sepakbola ada dimana-mana. Aku mendapat beberapa teman baru untuk mengobrol tentang sepakbola yang hampir seluruhnya laki-laki. It’s always nice sharing about football with the ones who have the same minds as you are. Sedangkan mencari teman mengobrol untuk MotoGP dan Formula1 beribu kali lebih sulit daripada mencari teman mngobrol tentang sepakbola. Ada sih beberapa orang, dan mostly perempuan. Harusnya gue gembira mendapat teman sepemahaman, but we don’t really have that kind understanding after all. Sekarang gue sedang mencari teman mengobrol untuk Formula1. Sesaat gue merasa cengo saat gue ingin membicarakan hal yang sangat menarik, tetapi tidak ada satu orangpun yang mendengarkan dan mengerti. Untung jaman sekarang sudah ada twitter dimana gue mau bicara apapun, peduli amat dengan pendapat orang.

Continued to

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s