Malam Mingguan Bersama Edwin Van Der Sar

 

(ki-ka) Mas Roury, Gue, Dimas, Edwin Van der Sar, Mas Harry

(ki-ka) Mas Roury, Gue, Dimas, Edwin Van der Sar, Mas Harry

(Originally P osted on June 19th, 2012 via win9winchester.blogdetik.com)

 

Namaku Wiwin Winingsih. Postingan pertamaku diblog Detik ini akan menceritakan tentang pengalamanku mewawancari langsung salah satu mantan keeper terbaik dunia yang pernah bermain untuk Manchester United, team sepakbola favoritku.
Sebenarnya aku nggak lebih istimewa dari gadis biasa berumur 20 tahun Penggemar Manchester United dengan kesibukan sebagai seorang mahasiswi semester 6 di Universitas Islam Negeri Jakarta, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Teman-temanku menyebutku gadis beruntung karena kadang keberuntungan ada dipihakku ketika aku berhasil memenangkan beberapa kuis dari media online. Aku juga terdaftar sebagai anggota United Army, The Indonesian Official Manchester United Supporter Club. Dan sebagai salah satu penggemar berat klub yang berjuluk Setan Merah itu, merupakan sebuah impian untuk bertemu dengan punggawa-punggawanya. Ketika DetikSport memberikan kesempatan langka itu, luapan kegembiraan tak bisa aku sembunyikan dari semua orang.

Hari itu, Jum’at, 15 Juni 2012, aku baru terbangun dari tidur siang singkatku setelah seharian beraktifitas ketika aku melihat mention twitter-ku terisi oleh 6 content mentions. Sebelumnya tidak pernah terjadi mention sebanyak itu dalam suatu waktu. Paling banter juga 4. Tanpa curiga, dibukalah twitterku dengan santai dan dengan mata yang masih lelah dan ngantuk. Seketika tab mention aku buka, aku kaget luat biasa. Mataku yang sedari tadi masih setengah melek langsung segar menuruti hentakan keras dari jantungku. Aku langsung bangkit dari tempat tidur dan menghampiri teman sekamarku yang ketika itu sedang terlelap. Mungkin dia sudah marah jika aku membangunkannya untuk hal yang sepele. Tetapi aku langsung histeris dan mengatakan padanya jika aku memenangkan kuis dari DetikSport untuk wawancara exclusive bersama Edwin Van Der Sar. Dia tersenyum dan mengucapkan selamat, sama halnya dgn semua org yang berada satu kost bersamaku. Ucapan selamat ditwitter-pun langsung mengalir dari teman-teman sejahwatku ketika aku RT jawaban pemenang kuis dari akun @DetikSport. Setelah mendapat konfirmasi Via DM tentang detail acaranya, bergegas aku mengumpulkan koleksi Manchester United-ku untuk ditandatangani The Great Flying Dutchman.

Hari besar itu telah tiba. Setelah sebelumnya beraktivitas dgn kehidupan kampus, jam 3 sore aku berangkat ke tempat tujuan, Grand Kemang Hotel. Aku sengaja berangkat dengan menyewa tukang ojek untuk menghindari datang terlambat. Ditambah, aku dengar tidak ada kendaraan umum seperti angkot, bus, dll kesana. Segala tugas kuliah dan tugas organisasi aku tinggalkan demi kesempatan langka ini. Semuanya nggak akan tercapai tanpa sebuah pengorbanan, gumamku. Setelah sampai dihotel, awalnya aku canggung karena tidak mengenal siapa-siapa, tetapi kemudian aku bertemu Dimas, pemenang wawancara exclusive lainnya. Dengan was-was, kami menunggu Mas Roury, wartawan DetikSport yg katanya akan mendampingi kami ketika wawancara nanti. Tak lama kemudian, aku dan Dimas bertemu dgn Mas Roury dan fotografernya, Mas Harry.

Semula aku kira wawancara bakal dilaksanain dikantor redaksi Detik kayak Rio Ferdinand dulu, tetapi karena kesibukan Van Der Sar, jadi kali ini wawancaranya diadakan dihotel tempat VDS menginap. Ketika mas-mas dari MSG mengajak kami ke lantai 2, aku pikir kami akan langsung masuk dan mewawancarai dia, tetapi ternyata masih harus mengantri. Pihak DetikSport mendapat giliran ke 5 untuk wawancara setelah media-media lain. Perasaanku sudah tak karuan saat itu. Seperti halnya menghadapi ujian lisan Speaking dikampus, jantungku berdetak kencang dan badanku tidak bisa diam. Dari sekian banyak orang yg menunggu didepan ruang wawancara VDS, hanya aku yg mondar-mandir nggak karuan gara-gara terlalu gugup. Setelah media terakhir sebelum giliran kami keluar, ternyata wawancara dipending dulu gara-gara VDS kelaparan. Denger-denger VDS belum makan sama sekali semenjak landing di Soetta dipagi harinya. Ingin rasanya mem-puk-puk pundaknya jika tau betapa capeknya jadi public figure terkenal seperti VDS.

Dua jam menunggu dengan kegelisahan dan pikiran yang dipenuhi imajinasi tentang apa yang akan terjadi didalam ruangan wawancara, akhirnya tiba giliranku, Dimas, Mas Roury dan Mas Harry untuk memasuki ruangan. Aku mencoba relax dan berusaha tidak berbuat suatu kebodohan yang bisa merusak moment indah dan langka ini, tetapi ketika menatap paras kebapakan dan ketangguhan VDS sebagai mantan penjaga gawang, aku tak bisa berkata apa-apa. Hanya senyum kaku yg tersungging dibibirku membalas senyum ramahnya. Wajah itu, wajah familiar yg bertugas menjaga gawang United dan hanya bisa ditatap lewat layar televisi sekarang ada dihadapan kami menunggu untuk bercengkrama. Aku rasa perasaan Dimas juga tak ada bedanya denganku ketika itu. Mas Roury yg sudah terbiasa dgn suasana seperti itu berusaha mencairkan kekakuan dengan memperkenalkan Aku dan Dimas sebagai pemenang kuis Exclusive Interview with Edwin Van Der Sar. Aku gugup, namun tanganku tidak tahan untuk tidak menjabat tangannya. Aku beranikan diri menyapanya dengan pangilan Edwin, dan aku rasa itu tidak masalah baginya. Malah dia menyambutnya dengan ramah.

“Rempong” adalah kata pertama yang aku gumamkan ketika melihat tempat duduk sempit didepan meja yg sejajar dengan VDS sehingga tidak bisa aku dan Dimas lewati. Ya sudahlah.. Akhirnya aku dan Dimas duduk dibangku kedua sementara Mas Roury berada tepat disebelah VDS (envy berat!!), dan mas Harry sibuk dengan kameranya diseberang meja. Pikiran seketika dipenuhi kekagumanku terhadap sosok VDS sampai-sampai aku hampir lupa untuk merekam moment spesial itu menggunakan kamera digital milik temanku. Tanganku tak berhenti bergetar yang tercermin dari goyangan konstan kamera yang aku pegang. Ketika Mas Roury memulai pertanyaan pertamanya aku masih menyimak dengan seksama menggunakan akal sehatku. Bahasa Inggris fasih yg digunakan VDS untuk menjawab pertanyaannya masih bisa ku cerna. Namun ketika Mas Roury mempersilakan ku untuk memberikan pertanyaan pada VDS, konsentrasiku buyar! Untung saja pertanyaannya masih ku ingat.

“Which goal did you regret the most in your career as a goal keeper and who was the player who scored it?”

VDS langsung menjawab tanpa kesulitan, tapi dari panjangnya jawaban dari VDS, hanya kalimat pertama yang bisa aku cerna “That’s quite a lot”. Kalimat-kalimat setelahnya langsung berhamburan keluar telinga kiriku. Alhasil aku hanya bisa mengangguk-angguk saja. :D Pertanyaan keduaku menyambung pertanyaan dari Dimas yg menanyakan siapa yg terbaik diantara Lindegaard dan De Gea.

“Do you think De Gea will reach success as you were in Manchester United?”

VDS menjawab bahwa semua orang mengharapkan De Gea sukses di Manchester United termasuk staff dan fans United.

Tidak terasa sepuluh menit berlalu. Batas waktu yang diberikan promotor untuk melakukan wawancara adalah 15 menit, jadi kami masih punya waktu 5 menit untuk mendapatkan tanda tangan dan foto bersama VDS. Rasanya waktu 15 menit masih kurang untuk dihabiskan bersama seorang legenda sepakbola seperti VDS. Genggaman tangan kuatnya sebelum aku dan yang lain meninggalkan ruangan rasanya enggan aku lepaskan. Wajah ramahnya masih ingin aku nikmati dari jarak dekat. Tapi waktu memang tidak bisa diperlambat, akhirnya kami keluar dengan perasaan bahagia, puas, dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Namun ada kelegaan setelah itu. Ketegangan perlahan mencair dan berubah menjadi keringat. Senyum tersungging lebar dari masing2 bibir kami sambil saling memamerkan koleksi Jersey yang sudah ditanda tangani VDS. Setelah kami menenangkan syaraf masing-masing, kami bergerak turun kelantai pertama. Tadinya aku dan Dimas terus membuntuti Mas Roury dan Mas Harry karena sebagian foto kami bersama VDS ada dikamera mereka.

Gue dan Debby selalu beruntung pada hari dan event yang sama

Gue dan Debby selalu beruntung pada hari dan event yang sama

Ketika kami sudah berada dilantai pertama, aku bertemu dengan Debby, teman seperjuanganku. Kami saling mengenal ketika kami berdua sama-sama menang di acara Meet n’ Greet bareng Rio Ferdinand. Secara kasat mata, keberuntungan kami terlihat selalu jatuh dihari yang sama. :D
Kami bercengkrama sebentar sebelum Debby, Mas Harry dan Mas Roury masuk ke venue Meet n’ Greet dan meninggalkan aku dan Dimas. Tadinya kami sudah akan pulang, bahkan Dimas sudah menuruni tangga menuju basement. Jika saja BBM Mas Roury telat aku baca, mungkin Dimas sudah meluncur kejalan pulangnya. Namun Tuhan masih menghendaki kami untuk bersenang-senang dimalam minggu itu. Mas Roury menyuruh kami untuk masuk ke venue Meet n’ Greet dengan hanya menunjukan ID media partner yang diberikan pihak acara ketika sebelum wawancara tadi sore. Awalnya aku dan Dimas tidak yakin, tapi ternyata kami bisa masuk hanya dgn menunjukan ID media partner tersebut.
Ada cerita lucu mengenai aku dan Dimas dipintu keamanan saat kami akan memasuki venue MnG. Kami diberi cap sebagai identitas bahwa kami memang peserta MnG, namun sesaat setelah tangan kami diberi tanda, kami mengeluh bahwa tandanya tidak nampak nyata ditangan kami. Tetapi kemudian petugas lain yang membawa sinar UV ditangannya menjelaskan bahwa tanda itu memang sengaja didesign hanya untuk terdeteksi oleh sinar UV. Aku dan Dimas langsung nyengir tengsin seketika. Hahahahaha.. Katro! :D
Kami diberitau bahwa Mas Roury sama Mas Harry udah standby dimeja dekat kolam renang berikut Debby disana. Kami bertemu lagi dan bercengkrama kembali seputar apa yag baru saja terjadi dan betapa beruntungnya aku dan Dimas bisa ikut MnG juga. Lucky-nya double deh! Keberuntunganku malah tambah berlipat ketika tiba-tiba saja aku ditembak oleh MC untuk menjawab pertanyaan yang bahkan jawabannya pun dikasih tau ketika aku sedang iseng memotret VDS yang duduk didekat kursiku menggunakan kamera DSLR milik Mas Harry. Alhasil voucher belanja dan golf course pun berpindah tangan dari sang MC ketanganku. Agak lucu memang jika mengingat bagian itu. Nggak nyangka sama sekali!! Aku, Dimas, Debby, Mas Roury dan Mas Harry tak berhenti cekikikan setelah sang MC kembali kepanggung.
Kami berlima sangat menikmati malam minggu yang berbeda dari yang biasa itu. Bahkan ketika acara selesai, kami terus bercengkrama akrab seakan enggan meninggalkan venue untuk pulang kerumah atau ke kantor masing-masing. Saat itu aku terus bepikir bahwa itu adalah hari terindah dan paling bahagia dihidupku sebagai penggemar Manchester United setelah 7 tahun mengenal mereka. Setelah sebelumnya bertemu Rio Ferdinand, hari itu aku juga telah bertemu Edwin Van Der Sar, salah satu penjaga gawang paling hebat dibawah mistar United. Tak henti-hentinya aku mengucap syukur kepada yang maha kuasa atas nikmat yg diberikan-Nya, juga pada DetikSport yg telah mewujudkan mimpiku menjadi kenyataan. What a wonderful night!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s