Best Friend For(N)ever

London di sore hari. Aku menikmati dinginnya udara ibukota Inggris dengan duduk dan minum secangkir kopi di café favoritku yang tak jauh dari tempat tinggalku. Melihat orang-orang berlalu lalang adalah kenikmatan tersendiri sambil berfikir seolah-olah mereka tidak mempedulikan orang lain meskipun hampir disetiap waktu pada jam-jam tertentu mereka selalu berpapasan. Sudah lama sekali aku tidak menikmati suasana seperti ini. Dua tahun belakangan aku habiskan waktu liburan musim panas dan natal ditempat dimana aku menimba ilmu sebagai calon pengacara di Universitas Stanford, California, USA. Kesibukan yang terlalu membuat aku bahkan tak sempat menikmati apapun dimusim liburan. Untuk sekedar merayakan natal bersama keluarga pun harus ayah dan ibu yang terbang jauh ke sana. Mahasiswa, dulu tak terbayang menjadi salah satu dari mereka akan menjadi sangat memelahkan dari segi fisik maupun mental. Namun tahun ini, aku bekerja lebih keras untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahku lebih awal untuk mendapatkan hak liburku. Aku merindukan semua yang ada di London. Keluarga, sahabat, teman-teman sekolah dan suasananya. Tiba-tiba ingatan masalalu tentang kedua sahabat karibku menyeruak jelas dipikiranku tentang kenangan ditempat ini bersama mereka sekitar dua atau tiga tahun yang lalu.

Biasanya tiga kali dalam seminggu aku, Casey dan Emily menghabiskan waktu dengan bersenda gurau di café ini, bercerita tentang segalanya. Kadang keluh kesah tentang masalah masing-masing diselesaikan secara bijak oleh kami. Kami sudah seperti keluarga yang tidak bisa dipisahkan. Aku ingat betapa kami saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain, saling perhatian, dan kami selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama. Saat itu kami memang merasa sangat mengerti terhadap pribadi masing-masing, itu mengapa kami merasa ikatan diantara kami sangat kuat. Sepertinya tiada hari tanpa Casey dan Emily di hidupku saat kami bertiga masih bersama. Tapi semuanya berubah ketika kami menginjak tahun terakhir disekolah menengah atas. Dimulai dari sibuknya kegiatanku menyiapkan masa depan untuk berkuliah di Universitas impianku, aku mulai jarang menemui mereka, jarang berkumpul, jarang melakukan hal-hal bersama lagi. Jangankan untuk berbagi cerita, hanya untuk sekedar berkumpul ditempat biasa untuk menikmati “coffee time” di café favorit kami saja aku tak bisa. Aku juga kini mempunyai beberapa teman baru yang mempunyai tujuan yang sama denganku. Tanpa ada maksud melupakan atau mengacuhkan Casey dan Emily, aku sering bergaul dengan teman-teman baruku. Dari situ mulai terlihat Casey dan Emily menjauhiku, seolah mereka tidak pernah menganggapku sebagai sobat karib mereka lagi. Itu tidak masalah bagiku, hanya saja kadang telingaku agak terbakar ketika mendengar selentingan orang-orang membicarakan keburukanku yang memang setahu aku hanya diceritakan pada mereka berdua. Tapi aku selalu berfikir positif tentang mereka. Tak pernah aku berusaha untuk membongkar apapun tentang mereka. Sampai hari kelulusan tiba, kami yang saat itu ‘hanya’ berteman masih saling bertegur sapa dan saling berkomunikasi meski terkadang terasa canggung. Aku senang melihat Casey dan Emily masih dekat satu sama lain. Kedekatan yang dulu pernah terjalin bersamaku , kini hanya ada diantara mereka berdua. Aku dengar mereka juga akan berkuliah didua tempat berbeda. Casey mengikuti keinginan ayahnya untuk berkuliah di salah satu universitas di Jerman untuk menuntut ilmu sebagai calon dokter, dan Emily menekuni sastra di Universitas Newcastle. Kabar terakhir yang aku terima mereka masih berkomunikasi satu sama lain melalui jejaring sosial Facebook, dan itu sekitar enam bulan yang lalu. Entah sekarang mereka tahu atau tidak betapa aku merindukan kebersamaan masa lalu bersama mereka. Aku tersenyum simpul mengingat masa-masa indah tersebut.

Saat hendak mengambil cangkir dan meminum kopiku, aku melihat sesosok wanita yang sangat familiar dimataku. Dia bersama dengan seorang lelaki yang sepertinya aku juga kenal sedang berjalan kearah café yang sekarang sedang aku tempati.

“ Emily!” Sahutku.

Sosok wanita berparas ayu itu menoleh dan terlihat terkejut dengan kehadiranku disana. Namun wajah terkejutnya segera tergantikan oleh senyuman keakraban yang niscaya akan membuat semua orang terpana padanya. Dia dan pasangannya tersebut menhampiriku.

“Hey Ashley! Apa kabar?” tanyanya antusias.

“Baik. Kau sendiri bagaimana? Lama tak jumpa.”

“Aku juga baik-baik saja.” Jawabnya dengan senyuman.

Aku mempersilakan mereka duduk dikursi kosong yang masih tersisa dimejaku. Emily masih cantik seperti dulu. Malah sekarang bertambah sempurna seiring bertambah dewasanya dia.

“Oh iya, kau masih ingat Andrew kan?” katanya melanjutkan sambil melirik pada sosok lelaki manis disampingnya.

“Tentu saja. Dia yang berhasil menyatukan hatimu saat kau merasa tak ada harapan lagi saat hatimu hancur oleh si bastard itu.”

“Yeah! Dia memang pandai mencuri hati wanita.”

Kami bertiga hanya tertawa mendengar Emily menggoda Andrew. Obrolan pun berlanjut pada tingkat yang menyenangkan. Saling bertukar pengalaman tentang tempat tinggal baru dan pendidikan baru. Tentunya setelah hampir dua tahun tidak bertemu, banyak pengalaman dan cerita yang harus dibagi.

“Dua tahun! Tega sekali kau meninggalkan London kedinginan tanpa tawa canda kita.” Kata Emily dengan nada bercanda.

“Aku tidak tahu, Em. Menjadi mahasiswa sepertinya bukan pekerjaan yang mudah.”

“Yap! Aku setuju dengan itu. Banyak yang harus dikorbankan.” Andrew menyambung pernyataanku.

“Yeah! Benar sekali.” Suasana hening sejenak. Kami meminum kopi masing-masing.

“Bagaimana dengan Casey? Kalian sering bertukar kabar dengannya?”

Keduanya tertegun dan saling pandang. Terlihat sedikit kebingungan, kemudian tertawa.

“Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?” aku sendiri terheran-heran melihat tingkah mereka.

Aku pikir tak ada yang salah dengan pertanyaanku barusan. Aku hanya menanyakan kabar Casey yang terakhir kali ku dengan kabarnya Emily dan Casey masih dekat.

Emily dan Andrew tak menghentikan tawanya, meski terkesan agak dipaksakan.

“Baiklah, guys. Tolong hentikan tawa kalian! Aku tidak mengerti.” Akhirnya Emily dan Andrew mengentikan tawa mereka dan kembali fokus padaku.

“Apa kau mengetahui sesuatu tentang kami dan Casey?” Emily bertanya padaku masih dengan senyum herannya.

“Tidak!” aku menjawab tegas.

“Serius?” Andrew ikut-ikutan.

“Aku serius! Aku tidak tahu apapun tentang kalian bertiga. Memangnya ada apa?”

“Aku pikir kau hanya pura-pura tidak tahu, Ashley.” Celetuk Emily.

“Apa? Emily, aku benar-benar tidak tahu apa-apa.” Aku semakin heran dan bingung.

“Lalu mengapa kau bertanya tentang Casey pada kami?” Andrew sudah seperti seorang polisi yang menginterogasi penjahat sekarang.

“Aku hanya ingin mengetahui kabarnya. Aku pikir Emily dan Casey masih punya kedekatan seperti dulu, itu sebabnya aku bertanya.”

Keduanya hanya mengangguk-angguk lega.

Sebaliknya, rasa penasaran sekarang menyeruak dikepalaku tentang apa yang terjadi antara Emily, Casey, dan Andrew selama aku tidak bertemu mereka.

“Apa yang terjadi antara kalian bertiga?” tanyaku. Kali ini giliranku yang menjadi sang interrogator.

Keduanya saling pandang lagi. Terlihat komunikasi dengan mata yang aku tangkap dan kurang lebih artinya ‘Bagaimana? Haruskah ada satu orang lagi yang mengetahui rahasia ini?’, kemudian dijawab dengan ‘Ya sudah. Semuanya sudah terlanjur. Beritahukan saja padanya tentang semua itu.’

Diskusi kecil tanpa bersuarapun akhirnya selesai. Aku memadangi mereka dengan rasa penasaran.

“Sebaiknya kita memisahkan diri dulu.” Ujar Emily sambil menarik tanganku dan mengajakku duduk dimeja lain yang cukup jauh dari meja dimana Andrew duduk.

“Kau mau tahu apa yang sesungguhnya terjadi antara aku, Casey dan Andrew?” Emily mengawalinya dengan sebuah pertanyaan.

“Tentu saja! Semuanya harus jelas.”

Emily menarik nafas panjang sebelum memulai bercerita, begitu pula aku yang akan mendengarkan ceritanya. Sepertinya akan sangat mengejutkan.

“Begini, sebenarnya aku dan Andrew sudah tidak berpacaran lagi. Tadi pagi kebetulan Andrew sedang tidak punya sesuatu untuk dikerjakan, jadi dia menjemputku kerumah untuk mengajakku berjalan-jalan mengelilingi kota London.”

Cerita berlanjut pada level yang lebih mengejutkan. Ternyata saat mereka putus dulu penyebabnya adalah Emily mempunyai pacar lagi di New Castle. Dia bilang menjalani hubungan jarak jauh dengan dia di New Castle dan Andrew di Oxford sangat membosankan. Hanya berkomunikasi lewat telepon dan tidak bisa bertatap muka setiap saat. Semua orang pasti akan memakluminya jika mereka sudah memahami sifat yang dimiliki Emily. Apalagi dengan didukung parasnya yang mendekati sempurna, menemukan lelaki lain yang lebih menyenangkan untuk membunuh kebosanan disela kegiatannya berkuliah adalah hal yang mudah. Petaka dimulai saat Andrew mengetahui perbuatan curang Emily. Dengan bermaksud membalas dendam, Andrew mendekati Casey yang saat itu masih bersahabat karib dengan Emily. Andrew memanfaatkan kelemahan Casey yang mempunyai sifat polos dan mudah luluh oleh rayuan pria walau pria tersebut adalah pacar sahabatnya sendiri, dan menyambut baik niat Andrew. Casey sepertinya tidak peduli sama sekali dengan status Andrew sebagai pacar Emily, yang dia tahu adalah dia mencintai Andrew dengan sepenuh hatinya karena merasa Andrew sudah sedemikian perhatiannya pada dirinya. Petaka lain muncul ketika Emily mengetahui hubungan terlarang Andrew dan Casey dibelakangnya. Tanpa berfikir apa-apa, Emily memutuskan untuk benar-benar putus dengan Andrew dan menjauhi serta membenci Casey yang sudah merebut Andrew darinya. Casey pun sepertinya masih se-egois yang aku kenal dulu. Meski dia telah meminta maaf pada Emily, dia tetap tidak mau melepas Andrew. Setidaknya itulah inti cerita yang aku tangkap dari apa yang diceritakan Emily.

“Dan sekarang, meski aku dan Andrew masih dekat, kami hanya berteman.” Terang Emily.

“Tapi bagaimana dengan Casey? Kalian masih berjauhan?” aku menatap Emily dengan perasaan sedih dan prihatin.

“Aku tidak tahu, Ash. Mungkin mereka masih berpacaran, mungkin juga sudah putus. Aku tidak perduli sama sekali.” Raut kebencian tersirat di wajah Emily.

“Ya ampun..” Aku terkejut seterkejut-kejutnya mendengar cerita Emily.

Bagaimana mungkin dua sahabat karib yang aku kenal dan sudah menjadi bagian dari hidup dan keluarga masing-masing menjadi bermusuhan hanya karena masalah laki-laki? Dunia ini sudah gila.

“Umm, sebaiknya kita kembali ketempat Andrew. Sepertinya dia terlihat kedinginan sendirian disana.” Emily kembali menarik tanganku yang masih lemas karena sedih dan terkejut.

“Bagaimana ladies? Sudah selesai berbisnisnya?” tanya Andrew dengan senyumannya. Senyuman yang tadinya terlihat manis, sekarang terlihat seperti serigala licik yang sedang menyeringai setelah aku mendengar cerita Emily.

Aku tak menjawab, hanya senyum hambar yang aku berikan sebagai balasan.

“Sudah,” jawab Emily, “Nih, sampai-sampai yang mendengarkan terlihat sangat shock.” Guraunya yang dibalas oleh tawa kecil keduanya.

Aku segera menyembunyikan wajah kecewa, sedih dan terkejutku dari mereka dan kembali tersenyum normal.

“Jangan khawatir, Ash. Kami semua sudah dewasa. Kami tahu apa yang harus dan tidak kami lakukan untuk menyelesaikan masalah ini,” ujar Emily, “Well, meski kami sendiri juga tidak tahu apakah masalah ini akan selesai atau tidak.”

Semuanya terdiam mendengar ucapan Emily. Aku benar-benar tak bisa berfikir jernih saat itu. Aku tak bisa bicara apa-apa.

“Yang jelas semuanya tidak akan pernah kembali seperti dulu.” Pernyataan terakhir Emily membuatku makin sedih.

Tertutup sudah peluangku untuk membuat keadaan menjadi harmonis seperti dulu, dimana aku, Emily dan Casey masih bersama.

“Tapi setidaknya kita harus membuat keadaan ini menjadi lebih baik, Em.” Aku berusaha meyakinkan Emily tentang kemungkinan memperbaiki semuanya.

“Aku sudah mencoba, Ash. Kami semua sudah mencoba! Tapi hasilnya nihil.” Emosi Emily terpancing. Aku dan Andrew tertegun.

“Sudahlah, Ash! Biarkan semuanya mengalir seperti ini. Mungkin Tuhan tidak mengizinkan kita untuk merubah keadaan.”

Akupun sadar. Yang dikatakan Emily memang benar. Tidak semuanya bisa kita rubah sesuai keinginan kita. Tuhan pasti lebih tahu yang terbaik.

“Woah! Tidak terasa. Kami harus pergi, Ash. Jika tidak, kami akan terlambat untuk acara makan malam dirumahku,” kata Emily, “Kau juga di undang jika kau mau datang.” Senyum Emily tersunging seiring dia dan Andrew bangkit dan hendak meninggalku.

“Terima kasih. Aku akan mempertimbangkan undanganmu.” Balasku masih dengan senyum hambar.

Setelah bersalaman denganku, keduanya pergi kearah yang akan mereka tuju. Sosok merekapun menghilang ditengah keramaian kota London.

Aku yang kembali sendiri memutuskan untuk pulang kerumah. Selain udara dingin yang semakin menyengat, aku juga perlu merenungkan apa yang telah aku dapat tadi dari Emily. Tidak disangka, niatku untuk menanyakan kabar tentang keadaan Casey berujung pada jawaban yang tidak hanya menjawab pertanyaanku sepenuhnya, tapi juga menguak api dalam sekam yang mereka bertiga sembunyikan selama ini.

Sepanjang jalan aku memikirkan niat untuk melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Aku benar-benar merasa tidak berguna sebagai seorang teman. Tapi salah satu dari mereka yang telah menyatakan untuk tetap menjauh dari masalah ini membuat niatku tertahan. Entah pihak yang mana yang patut dipersalahkan. Semuanya masih belum jelas karena aku baru mendengar cerita ini dari satu orang, aku belum mendengar secara langsung dari Casey. Entah kemana dia sekarang. Account Facebook-nya aktif, tapi jarang sekali dia membalas chat ku. Mungkin Emily benar, mudah-mudahan dengan membiarkan semuanya berjalan dengan sendirinya, semuanya akan kembali seperti semula. Senyuman hambarku kembali tersungging seiring mencoba untuk tidak memperdulikan masalah ini sambil menikmati jalan-jalan kota London yang aku lewati.

THE END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s